Presiden Amerika itu lagi perang sendiri : melawan Twitter

6/04/2020

Amerika Serikat - Telah tercatat mengenai Demokasi America Serikat, dalam hal ini  telah dikutip "bahwa Jumat kemarin Presiden Donald Trump mulai menembakkan pena-nya. Ia tandatangani dekrit presiden: agar UU 230 tahun 1996 direvisi. Kalau perlu dicabut.


Sasarannya: Twitter --sebagai perusahaan. Juga Facebook dan YouTube. Terutama Twitter. Dengan dekrit itu, platform seperti Twitter bisa diperkarakan. Kalau terbukti bersalah bisa dipenjara. Atau diminta ganti rugi.
Trump memang lagi sewot pada Twitter. Ia menilai Twitter menyensor postingannya. Minggu ini saja dua kali. kali pertama postingan tentang pemungutan suara. Di negara bagian California. Yang dilakukan secara online --akibat Covid-19.

Trump --lewat postingan Twitter-nya-- menilai pemungutan suara dengan cara itu penuh kecurangan. Twitter sebenarnya tidak memblokade postingan Presiden Trump itu. Follower Trump --yang 80 juta orang -- tetap bisa membacanya. Tapi ”redaksi” Twitter memberi catatan: perlu dicek, apakah faktanya begitu.

Unggahan kedua: soal kerusuhan di Minneapolis. Trump mengunggah Twitter yang dianggap mengagungkan kekerasan. Begini bunyi twitternya: ”Begitu penjarahan dimulai penembakan juga dimulai”.
Bunyi Twitter presiden seperti itu dianggap justru membakar kerusuhan.
Follower Trump tetap bisa membaca postingan itu secara lengkap. Tapi ”redaksi” Twitter memberi catatan bahwa bunyi postingan seperti itu melanggar kebijakan isi Twitter. Yakni mengagungkan kekerasan tadi.
Di Kota Minneapolis --kota terbesar di negara bagian Minnesota-- memang terjadi kerusuhan tiga hari. Dimulai Rabu lalu. Gegaranya: orang kulit hitam tewas setelah lehernya ditindih dengkul polisi kulit putih di jalanan.
Kota Minneapolis menjadi lebih ramai karena mepet dengan kota besar lainnya: St Paul. 
Kini kerusuhan itu menular ke banyak kota lainnya: termasuk Los Angeles.
Twitter akan melawan dekrit presiden itu. Termasuk lewat pengadilan. Demikian juga Facebook dan YouTube.
Tapi banyak juga yang mendukung Trump. Terutama dari golongan konservatif --yang mengelompok ke Partai Republik. 
Senator dari Florida, Marco Rubio, setuju dengan Trump. ”Kalau Twitter sudah menyeleksi konten berarti Twitter sudah sama dengan penerbit media,” ujarnya. Twitter, katanya, tidak lebih dari penerbit surat kabar.  Pokoknya perang melawan sosmed ini akan seru.
Trump memang dikenal sebagai ”Raja Twitter”. Tiap pagi pekerjaan utamanya memposting tweet. Di situ ia mengancam. Di situ ia melecehkan lawan. Pun di situ menekan kanan-kiri. Termasuk lewat kalimat-kalimat menyudutkan. Selama 2,5 tahun menjadi presiden ia sudah mengunggah 170.000 Tweet. Ia juara dunia.

Ia memang merasa tidak mungkin lagi menggunakan media mainstream. Yang hampir semua justru menyerangnya. Ia justru memberi nama koran seperti New York Times dan Washington Post sebagai produsen berita palsu.

Harapannya tinggal di Twitter. Tapi belakangan Twitter juga sudah seperti itu. Ia begitu kecewa. Ia tahu, bisa jadi, dekrit itu tidak realistis. Begitu sulit proses merealisasikannya. Tapi siapa tahu bisa untuk menekan Twitter. 



0 comments

Daily Journal

Recent Posts Widget
close